Aku Tidak Punya Pembantu

Kadang bosan menghampiri, ketika tiba di rumah setelah lelah bekerja dari jam 7:30 sampai 16:15 membanting tulang di tempat kerja (hal ini ada penjelasannya sendiri di bawah – red), lelah karena sepagian duduk kejepit di dalam omprengan atau berdesakan dengan penumpang lainnya jika naik baswey, terjebak macet yang tak berperasaan, membuka kamar mandi dan melihat hamparan ember berisi pakaian yang sudah direndam dalam deterjen dan menunggu untuk dicuci.

Lalu aku melihat ke ruang tamu, ada hamparan majalah yang sudah dibeli namun belum sempat dibaca, ada alat-alat musik yang menanti untuk dimainkan, ada gadgets yang menggoda untuk dipelajari kecanggihannya, ada novel baru yang menunggu untuk dihayati lembar demi lembarnya, ada beberapa keping DVD bajakan yang baru dibeli dan menanti untuk ditonton.

Dan ada sofa empuk menanti untuk diduduki dan kipas angin yang siap menghibur dengan hembusan angin dingin penyebab perut kembung. Kadang aku menyerahkan diri pada peluk mesra Sang Malas, niatnya memejamkan mata sebentar namun terbangun 2 jam kemudian. Sudah terlalu malam. Aku tidak jadi nyuci, aku tidak jadi baca-baca, aku tidak jadi main musik, aku tidak jadi utak-atik gadget. Semua sirna ditelan oleh godaan mimpi indah yang menawarkan hidup di awang-awang dengan segala ketersediaan dan pembantu yang siap memberi jaminan kebersihan dan kerapihan.

Namun aku hidup di dunia nyata. Tidak menggunakan jasa pembantu karena memang aku hanya tinggal berdua di rumah. Saat siang kadang sampai malam rumahku akan kosong, tidak ada yang menunggui kecuali hantu-hantu yang iseng mencari tempat hang out yang baru. Seharusnya semuanya tidak menjadi terlalu berantakan ya. Belum lagi aku kuatir kalo misalnya nanti pembantu itu malah mempergunakan kesempatan untuk memanggil konco-konconya masuk ke dalam rumah dan menggunakan fasilitas yang ada buat melakukan tindakan yang kurang bertanggung jawab – seperti yang pernah terjadi di rumah beberapa teman saya.

Maka ku memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu. Lagian apa sih yang terlalu sulit untuk dikerjakan? Rumahku tidak besar jadi tidak akan terlalu cape untuk disapu kemudian dipel. Yang penting hanya ketersediaan pakaian yang rapih supaya tidak bingung saat mau berangkat kerja. Untungnya ada pembantu panggilan yang siap datang kalo aku butuh tenaganya, biasanya hanya untuk melakukan setrika pakaian yang telah tertumpuk lebih dari 2 minggu, hehehehe… Sisanya? aku masih bisa lakukan sendiri koq.

Maka menggunakan jasa pembantu itu sama filosofinya dengan membeli gadget, sesuai kebutuhan saja. Paling pertimbangannya hanya dalam hal membagi waktu antara mengerjakan pekerjaan rumah atau menjalankan hobi. Sederhana walau cukup menyakitkan. Bila memang pertimbangan itu terasa amat berat, maka lebih baik saya tidur saja, biar nyuci pakaian dan beres-beres rumah lainnya dikerjakan di keesokan hari, dengan harapan semangat sudah diperbaharui. Semangat yang diperbaharui berjalan seiring dengan akumulasi pakaian tertumpuk di bakul. Kesimpulannya, jangan menunggu semangat dulu baru nyuci kalo ga kepengen makin bete.

Entah apalah alasanku sehingga menulis hal yang maha ga penting ini. Sekian.

 

PeloekTjioemSemoeanjah,

 

Bigbangjoe

Presiden Front Pembela Cintah

footnote: kerja dari jam 7:30 – 16:15 itu adalah aturan jam kerja kantor saya yang sesungguhnya. Saya mah datangnya jam 8:30 atau lebih. Jangan salahkan saya, salahkan kemacetan di kota ini yang sampai membuat salah satu menteri ngamuk-ngamuk karena dikejar waktu akibat mau mimpin rapat. 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s